Bumi Cendekia kembali dikunjungi volunteer, di edisi Cerita Volunteer kali ini akan menceritakan sosok Eli Miller yang telah melakukan program volunteering di sini. Terhitung sudah dua minggu, dari pertengahan Februari hingga awal Maret (11/03), pemuda yang kerap disapa Eli ini (dibaca: ilai) membantu mengajar baik di SMP dan SMA saat pelajaran Bahasa Inggris, Tea Time dan University Preparation.

Eli berusia 20 tahun yang saat ini masih berstatus mahasiswa tahun kedua di Eastern Mennonite University, tepatnya di Virginia. Ia mengambil jurusan Environmental Science atau Ilmu Lingkungan. Karena itu, dalam serangkaian kegiatan volunteering-nya, Eli juga berkontribusi membantu teman-teman Ecopiece untuk mengelolah sampah. Eli berkata, “saya menyukai lingkungan dan traveling, karena itu saya memilih jurusan ini.” Selain itu, ia juga mengatakan bahwa suka dengan fotografi. Tentunya itu merupakan satu paket lengkap yang tak terpisahkan: alam dan seni fotografi.
Ketika ditanya kesan pesan ketika pertama kali di Indonesia, Eli menjawab “sangat panas, saya sampai tidak tahan.” Baginya Yogyakarta, dengan daerah Indonesia lain yang pernah ia kunjungi seperti Pati dan Jakarta, sama panasnya. Ia juga berkata, “orang Indonesia tidak banyak berbicara, tidak seperti kami di USA.” Menurutnya, orang-orang Indonesia cenderung hanya berbicara ketika perlu, tidak seperti culture di USA di mana orang-orangnya sangat suka yapping. Ia juga berkata bahwa orang Indonesia sangat penasaran dengan relationship, karena ia sering ditanya “apakah sudah punya pacar?” Di mana jika di USA, sangat jarang ada yang menanyakan hal tersebut. Karena sering mendapat pertanyaan semacamnya, ia mengungkapkan bahwa lama-lama sudah terbiasa.
“Saya pilih sate, dan nasi goreng.” Jawabnya ketika ditanya makanan Indonesia favoritnya. Alasannya karena lidah orang-orang USA terbiasa dengan daging-dagingan yang squishy, sehingga rasa dari makanan sate sangat relate dengan lidahnya. Ia juga sangat suka dengan kopi. Ia bercerita saat mengunjungi Jakarta, ia berpetualang mencicipi coffee shop yang ada di sana. Terutama rasa pahit dari kopi hitam, yang menurutnya membuat nagih.
Terakhir, ia menceritakan bagaimana rasanya selama menjadi volunteer di Bumi Cendekia. “Sangat senang sekali, saya berkesempatan untuk mengajar di kelas dan mendapatkan banyak pengalaman menyenangkan ketika di sini”, ungkapnya. “Saya merasa ada perbedaan ketika mengajar di Junior (SMP) dengan High School (SMA). Junior lebih ekspresif dan bersemangat. Sehingga saya juga ikut bersemangat.” Eli menilai, program ini sangat bagus untuk melatih santri agar terbiasa menggunakan bahasa Inggris dengan mencoba berinteraksi langsung. Dalam kesempatan itu, ia juga mengungkapkan permasalahannya selama volunteer yaitu utamanya karena ia tak bisa bahasa Indonesia. Sehingga ia banyak mendapatkan momen kesalahpahaman saat berinteraksi. Meski begitu, Eli sangat ingin kembali ke Indonesia, namun bukan untuk menjadi volunteer lagi melainkan hanya sekedar traveling dan menjelajahi setiap coffee shop yang ada.